Arsip yang tersedia

Minggu, 09 Juni 2013

fawatih al-suwar


Oleh : dwi lestari dan fahrul

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Studi atas Al-Quran telah banyak dilakukan oleh para ulama dan sarjana tempo dulu, termasuk para sahabat di zaman Rasulullah saw. Hal itu tidak lepas dari disiplin dan keahlian yang dimiliki oleh mereka masing-masing. Ada yang mencoba mengelaborasi dan melakukan eksplorasi lewat perspektif keimananm historis, bahasa dan sastra, pengkodifikasian, kemu’jizatanm penafsiran serta telaah kepada huruf-hurufnya.Kondisi semacam itu bukan hanya merupakan artikulasi tanggung jawab seorang Muslim untuk memahami bahasa-bahasa agamanya. Tetapi sudah berkembang kepada nuansa lain yang menitikberatkan kepada studi yang bersifat ilmiah yang memberikan kontribusi dalam perkembangan pemikiran dalam dunia Islam. Kalangan sarjana Barat banyak yang melibatkan diri dalam pengkajian Al-Quran, dengan motivasi dan latar belakang kultural maupun intelektual yang berbeda-beda. Al-Quran sebagai diketahui terdiri dari 114 surat, yang di awali dengan beberapa macam pembukaan (fawatih al-suwar) . di antara macam pembuka surat yang tetap aktual pembahasannya hingga sekarang ini huruf muqatha’ah. Menurut Watt, huruf-huruf yang terdiri dari huruf-huruf alphabet (hijaiyah) ini, selain mandiri juga mengadung banyak misterius, karena sampai saat ini belum ada pendapat yang dapat menjelaskan masalah itu secara memuaskan.
A.    RUMUSAN MASALAH
1.      Pengertian Fawatih Al-Suwar
2.      Macam-Macam Fawatihus Suwar
3.      Kedudukan Pembuka Surat Al-Qur’an
4.      Pendapat Para Ulama Tentang Huruf Hijaiyah Pembuka Surat
B.     TUJUAN
1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ulumul Qur’an
2.      Menambah pengetahuan tentang arti, macam-macam, kedudukan, serta pendapat para Ulama’ tentang Fawatihus Suwar

BAB II
PEMBAHASAN

   A.    PENGERTIAN FAWATIH AL-SUWAR
Menurut bahasa fawatih adalah jamak dari fatihah, yang berarti pembukaan atau permulaan atau awalan. Sedangkan kata suwar adalah jamak dari kata as surah, sekumpulan ayat-ayat Al-Quran yang mempunyai awalan dan akhiran. Jadi fawatihus suwar adalah pembukaan dari surat-surat atau beberapa macam awalan dari surat-surat Al-Quran.

   B.     MACAM-MACAM FAWATIHUS SUWAR
Di antara ciri-ciri surat-surat Makiyah adalah banyak surat-suratnya yang dimulai dengan huruf-huruf potongan (muqatta’ah) atau pembukaan-pembukaan surat (fawatih al-suwar). Pembukaan-pembukaan ini dapat dikatagorikan kepada bentuk:
1.        Ahmad Syadali dan Ahmad Rof’I (1997:185-186) mengemukakan
a.         Bentuk yang terdiri dari satu huruf. Bentuk ini terdapat pada tiga surat yaitu surat Shad(68), Qaf(50), Al-Qalam(68). Surat pertama di buka dengan Sad, kedua dengan Qaf, ketiga dibuka dengan Nun.
b.        Bentuk yang terdiri dari dua huruf. Bentuk ini terdapat pada sepuluh surat. Tujuh di antaranya disebut hawamin yaitu surat yang dimulai dengan huruf Ha dan Mim. Surat-suratnya adalah Gafir(40), Fushilat(41), As-Syura(42),. Al-Zukhruf(43), Al-Dukhan(44), Al-Jatsiyah(45), dan Al-Ahqaf(46). Khusus pada surat As-Syura pembukaannya bergabung antara  حم dan عسق tiga surat lagi adalah surat طس طه dan يس
c.         Pembukan surat yang terdiri dari tiga huruf terdapat tiga belas tempat. Enam di antaranya dengan huruf الم yaitu surat Al-Baqarah(2), Ali Imron(3), Al-Ankabut(29), Ar-Rum(30), Luqman(31), Al-Sajdah(32). Lima huruf  الر yaitu pada surat Yunus(10), Hud(11), Yusuf(12), Ibrahim(14), dan Al-Hijr(15). Dua susunan hurufnya  طسم terdapat pada pembukaan surat As-Syura(26) dan Al-Qashash(28)
d.        Pembukaan surat yang terdiri dari empat huruf yaitu  المص pada surat Al-A’raf(7) dan pada surat Al Ra’d(13) المر
e.         Pembukaan surat yang terdiri dari lima huruf hanya satu saja, yaitu  كهيعص yaitu pada surat Maryam(19)

2.        Pembukaan dengan pujian atau sanjungan kepada Allah
a.         Memakai kata Al-Hamdulillah seperti pada Surat: Al-Fatihah(1), Al-An’am(6), Al-kahfi(18), Saba’(34), Fatir(35).
b.        Memakai kata Tabaaroka seperti pada Surat: Al-furqon(25), Al Mulk(67)
c.         Memakai kata Subhaana seperti pada Surat: Al-Isra’(17)
d.        Memakai kata Sabbaha seperti pada Surat: Al-Hadid(58), Al-Hasyr(59), Al-Shaff(61)
e.         Memakai kata Yusabbihu seperti pada Surat: Al-Jumu’ah(62), Al-Taghabun
f.         Memakai kata Sabbihi seperti pada Surat: Al-A’la(87)

3.        Pembukaan dengan Nida atau panggilan itu ada 3 macam:
a.         Panggilan yang di tunjukan kepada Nabi contohnya surah: Al Ahzab(33), At-Thalaq(65), Al-Tahrim(66)
b.        Nida yang ditunjukan kepada kaum mukminin,contoh surah: Al-Maidah(5), Al-Hujurat(49), Al-Mumtahanah(60)
c.         Nida yang ditunjukan kepada umat manusia contoh surah: An Nisa(4), Al Hajj(22)

Hikmah dari pembukaan surat Al-Qur’an memakai nida (panggilan) ini adalah untuk memberikan perhatian, peringatan, baik kepada Nabi Muhammad SAW atau umat beliau, dan untuk menjadi pedoman atau petunjuk dalam mengarungi laut kehidupan manusia.

4.        Pembukaan dengan jumlah khabariyah
Jumlah khabariyah ini ada 23 surat, antara lain pada surat Al-Anfal(8), At-Taubah(9), An-Nahl(16), Al-Anbiya’(21), Al-Mu’minun(23), Al-Nur(24), Az-Zumar(39), Muhammad(47), Al-Fath(48), Al-Qamar(54) dan lainnya.
Hikmah dari pembukaan surah dengan jumlah ini adalah untuk memperingatakan Nabi Muhammad Saw dan umat islam agar memperhatikan firman-firman Allah yang disebutkan sesudah pembukaan itu, serta mengamalkan dan menjadikan sebagai pedoman. 
5.              Pembukaan dengan Wawu Al-Qasam
Wawu Al-Qasam adalah huruf wawu yang berarti demi menunjukkan sumpah. Sebagai berikut Ash-Shaffat(37), Al-Dzariyat(51), Al-Thur(52), Al-Najm(53), Al-Mursalat(77), An-Nazi’at(79), dan lainnya.
Hikmah dengan pembukaan menggunakan sumpah tersebut adalah:
    1. Agar manusia meneladani sikap tanggung jawab, bahwa kalau berbicara harus benar dan jujur, dan bila perlu berani ngangkat sumpah.
    2. Agar dalam bersumpahbagi manusia harus memakai nama Allah. Dzat atau sifat-sifatnya
    3. Dalam beberapa sumpah Allah dalam Alquran, memang Allah kadang-kadang memakai benda-benda angkasa atau pun benda yang ada di bawah, tetapi itu hanya bagi Allah saja karena Allah yang maha agung.
    4. Digunakan beberapa sumpah benda atau mahkluk sebagai sumpah Allah itu agar benda atau mahkluk Allah itu selalu diperhatikan umat manusia. Karena yang termasuk yang di istimewakan Allah.
6.              Pembukaan dengan syarat
Kalimat syarat ini ada pada tujuh surat, yaitu surat Al-Waqi’ah(56), Al-Munafiqun(63), At-Taqwir(81), Al-Infithar(82), Al-Insyiqaq(84), Az-Zalzalah(99), An-Nashr(110).
7.              Pembukaan dengan fi’il Amr
Pembukaan dengan fi’il Amr atau kata perintah ada pada enam surat, yaitu surat Al-Jin(72), Al-‘Alaq(96), Al-Kafirun(109), Al-Ikhlas(112), Al-Falaq(113), An-Nas(114).
Hikmah dari pembukaan surah dalam Alquran dalam memakai fi’il amar, untuk memberikan perhatian, peringatan, dan petunjuk serta pedoman dalam berbagai pranata kehidupan.
8.              Pembukaan dengan do’a
Pembukaan dengan do’a ini ada pada tiga surat, yaitu surat Al-Muthaffifin(83), Al-Humazah(104), Al-Lahab(111).
Hikmah pembukaan dengan doa, yakni untuk memberi perhatian, peringatan dan petunjuk kepada semua  umat manusia.
9.              Pembukaan dengan Al-Ta’lil
Al-Ta;lil ini hanya ada pada surat Quraisys(106).
C.    KEDUDUKAN PEMBUKA SURAT AL-QUR’AN

            Menurut As-Suyuti , pembukaan-pembukaan surat (awail al-suwar) atau huruf-huruf potongan (Al-huruf Al-muqatta’ah)ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat. Sebagai ayat-ayat mutasyabihat, para ulama berbeda pendapat dalam memahami dan menafsirkannya. Dalam hal ini pendapat para ulama pada pokoknya terbagi dua. Pertama, ulama yang memahaminya sebagai rahasia yang hanya diketahui oleh Allah. As-Suyuti memandang pendapat ini sebagai pendapat mukhtamar(terpilih). Ibnu Al-Munzir meriwayatkan bahwa ketika Al-Syabi ditanya tentang pembukaan-pembukaan surat ia berkata:
            Dari Ali bin Abi Thalib:
إنّ لكلِّ كتابٍ صفْوَةً وصفوةُ هذا الكتابِ حروفُ التَّهجِى
       sesungguhnya bagi setiap kitab ada sari patinya dan sari pati kitab Al-Qur,an ini adalah  huruf-huruf ejaannya.”


           Abu Bakar juga pernah berkata:
فى كل كتابٍ سِرٌّ وسِرُهُ فى القرانِ اوائِلُ السُّورِ
“ pada setiap kitab ada rahasia, dan rahasianya dalam Al-Qur’an adalah permulaan-permulaan suratnya”
Kedua, pendapat yang memandang huruf-huruf di awal surat-surat ini sebagai huruf-huruf yang mengandung pengertian yang dapat di fahami oleh manusia. Karena itu penganut pendapat ini memberikan pengertian penafsiran kepada huruf-huruf tersebut.(Ahmad Syadali dan Ahmad Rof’I, 1997 :187)
Seluruh huruf yang terdapat dalam pembukaan-pembukaan surat ini dengan tanpa berulang berjumlah 14 huruf atau separuh dari jumlah keseluruhan huruf ejaan. Karena itu, para mufasir berkata bahwa pembukaan-pembukaan ini disebutkan untuk menujukan kepada bangsa Arab akan kelemahan mereka. Meskipun Al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf saja, dan lainnya dalam bentuk rangkaian huruf, namun mereka tidak mampu membuat kitab yang dapat menandinginya. Pendapat ini telah di jelaskan secara panjang lebar oleh Al-Zamakhasyari (wafat 742 H) dan Al-Baidhawi (wafat 685 H). pendapat ini di kuatkan oleh Ibn Taimiyah (wafat 728 H), dan muridnya, Al-Mizzi (wafat 742 H). Mereka menguraikan tantangan Al-Qur’an terhadap bangsa Arab untuk membuat tandingannya. Al-Qur’an di turunkan dalam bahasa mereka sendiri. Akan tetapi mereka tidak mampu membuat kitab yang menyerupainya. Hal ini menunjukan kelemahan mereka di hadapan dan membuat mereka tertarik untuk mempelajarinya.
Berikut ini dikemukakan beberapa riwayat dan pendapat ulama:
(Ahmad Syadali dan Ahmad Rof’I,1997 :189-191)


1.          
عن ابنِ عباسِ فى قوله:(الم)قال:اناالله اعلمُ وفى قوله:(المص)قال:اناالله
اُفَصِّلُ وفى قوله:(الر)قال:اناالله اَرَى
“dari Ibn Abas tentang firman Allah: الم, berkata Ibn Abbas :”Aku Allah lebih mengetahui”, tentang : المص berkata Ibn Abbas “Aku Allah akan memperinci”, dan tentang  الرberkata Ibn Abbas :”Aku Allah melihat”.(Di keluarkan oleh Ibn Abi Hatim dari jalan Abu-Duha).
2.          
عن ابن عباسٍ قال:الر وحم و ن حروف الرَّحمنِ مفرَّقةٌ
“Dari Ibn Abbas berkata ia: “alif lam ra, ha’ mim, dan nun adalah huruf-huruf al-rahman yang dipisahkan”.
(di keluarkan oleh Ibn Abi Hatim dari jalan Ikrimah)
3.          
عن ابن عباس فى كهيعص قال:الكَافُ من كريمٍ والهاءُ من هادٍ والياءُ من
 حكيمٍ والعينُ من عليمٍ والصادُ من صادقٍ
 “dari Ibn Abbas tentang Kaf, Ha’, Ya’ ,Ain, Sad, berkata Ia: Kaf dari Karim (pemurah), Ha’ dari Hadin (pemberi petunjuk), ya, dari hakim (bijaksana) ‘ain ‘Alim (maha mengetahui), dan sad dari Sadiq (yang benar).”(Di keluarkan oleh Al-Hakim dan lainnya dari jalan Sa’id Ibn Jubair)
4.        “Dari Salim Abd Ibn Abdillah berkata ia: Alif Lam Mim, Ha Mim, dan Nun dan seumpamanya adalah nama Allah yang dipotong-potong”.(Di keluarkan oleh Ibn Abi Hatim)
5.         “Dari Al-Saddiy,ia berkata: “pembukaan-pembukaan surat adalah nama dari nama-nama Tuhan Jalla Jalaluh yang di pisah-pisah dalam Al-Qur’an.(Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim).
6.         “Dari Ibn Abbas, berkata ia: Alif Lam Mim,Tha Sin Mim, Shad dan seumpamanya adalah sumpah yang Allah bersumpah dengannya, dan merupakan nama-nama Allah juga”.(Di keluarkan oleh Ibn Ibn Jarir dan lainnya dari jalan Ali Ibn Abi Thalhah).

   D.    PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG HURUF HIJAIYAH PEMBUKA SURAT

   Para ulama yang membicarakan masalah ini ada yang berani menafsirkannya di mana huruf-huruf itu merupakan rahasia yang hanya Allah sendiri yang mengetahui-Nya
(Ahmad Syadali dan Ahmad Rof’I, 1997: 195-198)
1.      Az-Zamakhsari berkata dalam tafsirya Al-Qasysyaf huruf-huruf ini ada beberapa pendapat yaitu:
a.       Merupakan nama surat.
b.      Sumpah Allah.
c.       Supaya menarik perhatian orang yang mendengarnya.
d.      Huruf yang dipakai adalah sebanyak separuh dari keseluruhan huruf-huruf hijaiyah.
2.      As-Suyuti menukilkan pendapat Ibn Abbas tentang huruf tersebut sebagai berikut:
الم  berartiالمص  اناالله اعلم  berarti اناالله اعلم وافصل
الر berarti  ارءاناالله كهيعص  diambil dari  كريم هاد حكيم عليم صادق

        Dikatakan pendapat hanyalah dugaan belaka. Kemudian di jelaskan bahwa hal itu merupakan rahasia yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.
3.      Al-Quwaibi mengatakan bahwasanya kalimat itu merupakan tanbih bagi Nabi, mungkin pada suatu saat Nabi dalam keadaan sibuk, maka Allah menyuruh Jibril untuk memberikan perhatian terhadap apa yang disampaikan kepadanya.
4.      As-Sayid Rasyid Ridha tidak membenarkan Al-Quwaibi di atas, karena Nabi sanantiasa dalam keadaan sadar dan senantiasa menanti kedatangan wahyu. Rasyid Ridha berpendapat sesuai dengan Ar-Razi, bahwa tanbih ini sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang musyrik Mekah dan Ahli Kitab Madinah. Karena orang-orang kafir apabila Nabi membacakan Al-Quran mereka satu sama lain menganjurkan untuk tidak mendengarkannya.
Di sebutkan dalam fusilat(41) ayat 26:
وقال الَّذينَ كفروا لَاتسمعو الِهَذَا الْقرانِ والغَوْافيهِ لعلَّكمْ تغلبون
“dan orang-orang yang kafir berkata: Janganlah kamu mendengar deringan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)

5.      Ulama salaf berpendapat bahwa “Fawatihus Suwar”telah disusun semenjak zaman azali sedemikian rupa supaya melengkapi segala yang melemahkan manusia dari mendatangkannya seperti Al-Qur’an
Oleh karena i’tiqad bahwa huruf-huruf ini telah sedemikian dari azalinya, maka banyaklah orang yang tidak berani mentafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf. Huruf-huruf itu dipandang masuk golongan mutasyabihat yang hanya Allah sendiri yang tahu.
Huruf-huruf itu, sebagai yang pernah ditegaskan oleh Asy-Syabi, ialah rahasia dari pada Al-Quran ini.
Dalam hal ini prof. Hasbi As-Shiddieqi menegaskan bahwa dibolehkannya mentakwilkannya huruf-huruf tersebut asal tidak menyalahi penetapan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun semua itu lebih baik kita serahkan kepada Allah.







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami ambil dari makalah ini adalah :
Fawatih as-suwar adalah pembuka-pembuka surat, karena posisinya di awal surat dalam Al-Qur’an.
Para ulama berpendapat bahwa huruf-huruf fawatih as-suwar itu secara umum telah sedemikian azali maka banyak ulama yang tidak berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap makna huruf-huruf tersebut.

Adapun urgensi mempelajari fawatih as-suwar itu secara pokok adalah bagaimana supaya bertambah keimanan kita dan keyakinan kita terhadap kebenaran ayat-ayat Allah.











DAFTAR PUSTAKA

Syadali, Ahmad, Ahmad Rof’i. 1997. Ulumul Qur’an 1. Bandung.
Budiharjo. 2012. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Tiara Wacana Group.
Poskan Komentar